1.jpg

Custom Text

Walau kuliner Manado mudah ditemukan di mal Ambasador di sebelah kantor, tetapi akhir-akhir ini saya jarang sekali makan siang disana. Dulu paling tidak dua minggu sekali saya niscaya nongkrong di salah satu kursi yang poly berjajar di lorong tempat deretan kios Manado berada. Alasannya, selain harganya mahal saya juga merasa tampilannya kurang begitu fresh. Tapi kuliner Manado adalah kesukaan saya, membayangkan rasa masakannya yg pedas, light dan tidak terlalu berat bumbu seperti hidangan Padang bisa membuat air liur menetes. 




Nah bulan dulu, seperti biasa pulang kantor saya menebeng mobil Mbak Fina, rekan kantor, yang kebetulan perjalanan pulangnya melewati rumah Pete. Terjebak macet dan perut yang lapar, aku lantas  mengajak Mbak 
 Fina mampir ke restoran Manado bernama Beautika di jalan Hang Lekir.  
 
Resto Manado ini terkenal di kalangan pecinta masakan Manado di Jakarta, menurut mereka cita rasanya otentik dan super pedas. 
Saya telah lama tahu mengenai restoran Manado terkenal ini, bahkan adik aku, Wiwin, sering membeli aneka lauk dan sup ikan seandainya kebetulan dirumahnya sedang ada acara keluarga.
 
Tapi seumur-umur saya belum pernah menginjakkan kaki kesana. 



Beautika terletak tak jauh dari mal Senayan City, untungnya malam itu resto cenderung sepi sehingga loka parkir mudah ditemukan. Masuk ke dalam resto, mata saya langsung dimanjakan dengan aneka hidangan khas Manado seperti ikan bakar, woku, rica-rica, pampis dan aneka tumisan sayur seperti bunga pepaya. Tampilan ayam woku dan rica-ricanya tidak seperti yang pernah saya masak atau bayangkan selama ini. Umumnya bumbu tak dihaluskan hingga lumat, melainkan masih berbentuk serpihan kasar. Jujur saya penasaran dengan semua rasa kuliner yang disajikan, semata-mata untuk membandingkannya dengan protesis sendiri.




Di sebelah kiri, dikotak kaca lainnya terpajang kue-kue tradisional khas Manado. Perut lapar membuat mata menjadi lapar juga, saya lantas memesan seporsi sup ikan marlin, 1/2 porsi daging yang dimasak rica-rica, sementara Mbak Fina yg tidak suka pedas memesan ayam masak kecap. Sup ikannya datang lebih awal, semangkuk besar sup yg penuh dengan rempah dan potongan ikan ini mampu disantap untuk tiga orang. Permukaan sup dipenuhi dengan daun bawang dan tomat merah yg masih fresh, cabai rawit hijau, daun kunyit, kemangi dan daun jeruk. Rasanya super segar, sayang ikan marlin terlalu kasar seratnya dan agak susah dikunyah.






Selama ini aku mengira masakan rica-rica mirip-mirip dengan sambal balado, tapi setelah semangkuk daging rica-rica muncul segala bayangan tersebut lenyap. Warnanya tidak terlalu kemerahan selayaknya balado, agak jingga, dan  sedikit berkuah (nyemek-nyemek). segala rasa masakannya sedap dan cocok dengan selera aku karena pedas dan tidak terlalu berat. Menyantap di resto masakan daerah yg otentik seperti ini memang membuat pikiran dan wawasan jadi lebih terbuka mengenai rasa dan tampilan satu hidangan, tidak semata-mata mengandalkan pada buku masakan atau resep-resep yg bersliweran di internet.




Nah karena ayam rica-rica belum pernah dieksekusi dan hadirkan di blog, maka weekend lalu saya coba buat dengan acuan daging rica-rica yang disajikan di Beautika. Saya tidak menggunakan  bawang putih, daun salam, lengkuas dan gula, karena umumnya masakan Manado memang tak menggunakan rempah dan bumbu tersebut. Walau poly yang mem posting rica-rica dengan tambahan kemangi, tapi karena Beautika tak memakainya maka saya skip dari resep. Selera setiap orang tentu saja berbeda, jadi jika anda menyukai kemangi maka silahkan ditambahkan.



Untuk menghasilkan  bumbu kasar seperti di resto maka saya memprosesnya di chopper, hasilnya seperti cincangan kasar bumbu, atau anda juga bisa menumbuknya kasar dicobek. Menurut saya versi rica-rica ini memiliki rasa yg sudah hampir mirip dengan versi Beautika, tetapi entah apakah resepnya sama atau tidak.




Berikut resep dan prosesnya ya.




Ayam Rica-Rica


Resep hasil modifikasi sendiri



Bahan:

– 1 ekor ayam, saya pakai ayam negeri, potong menjadi 12 bagian  + 1/2 sendok makan garam

– 1/2 butir jeruk nipis, peras airnya

– 1 1/2 sendok teh garam



Bumbu ditumbuk kasar:

– 20 buah cabai rawit merah

– 10 buah cabai merah keriting

– 8 siung bawang merah

– 3 cm jahe

– 2 batang serai, ambil bagian putihnya saja



Bumbu dan bahan lainnya:

– 3 sendok makan minyak buat menumis

– 5 siung bawang merah, iris tipis

– 5 lembar daun jeruk, sobek kasar

– 2 lembar daun pandan, disimpulkan (optional)

– 500 ml air

– 1/2 buah jeruk nipis, peras airnya

– 2 sendok teh garam



Cara membuat:





Siapkan ayam yang sudah dipotong, remas-remas dengan 1/2 sendok makan garam. Cuci hingga higienis, tiriskan. Tambahkan 1 1/2 sendok teh garam dan air jeruk nipis, remas dan diamkan selama 15 menit.

Siapkan wajan, tuangkan sedikit minyak dan panaskan. Goreng ayam hingga setengah matang saja, permukaannya sedikit kecoklatan. Angkat dan tiriskan. Sisihkan.

Gunakan wajan bekas menggoreng ayam, tumis bumbu yang ditumbuk, hingga harum. Tambahkan bawang merah, daun jeruk dan daun pandan, aduk dan tumis hingga rempah layu. Masukkan potongan ayam, aduk rata. Tuangkan air, jeruk nipis, dan garam. Aduk hingga rata. 




Masak hingga ayam matang dan air hampir habis. Jika kuah habis tetapi ayam belum matang maka tambahkan air panas dan masak hingga ayam matang dan kuah menyusut. 

Masakan agak sedikit nyemek-nyemek. Cicipi rasanya, sesuaikan garamnya. Bisa menambahkan kemangi pada termin ini. Angkat dan sajikan dengan nasi hangat. Super yummy!


Artikel ini telah ditulis oleh www.justtryandtaste.com dengan judul Resep Ayam Rica – Rica.
Silahkan berbagi jika bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here