Peran Komunitas untuk Kesadaran Gaya Hidup Sehat | Koran Jakarta

Peran Komunitas untuk Kesadaran Gaya Hidup Sehat | Koran Jakarta

Custom Text

Peran Komunitas bagi Kesadaran Gaya Hidup Sehat

Pola hayati sehat ataupun tidak itu bisa ditularkan lho, semua tergantung dari pergaulan dan bagaimana Anda membawa diri dalam ruang sosial

Sehat atau tak, sebenarnya hanyalah persoalan ketekunan. Jika Anda memiliki pandangan lurus soal bagaimana membangun pola hayati sehat, dan mengetahui kondisi tubuh dan faktor risiko yang dimiliki, ancaman penyakit mematikan sekalipun bisa diminimalisir.

Yang terjadi sekarang, sebenarnya masyarakat terjebak dalam pola hidup yang cenderung semrawut. Ditambah segala kemudahan memperoleh makanan melalui jalur daring yang sangat memanjakan, berimbas pada budaya minim bergerak.

Kemudian ditambah lingkungan, teman, ataupun keluarga memiliki pola hidup tak sehat, sehingga jangan heran dengan mudahnya kita bakal mengikutinya, karena tidak ada support system di dalamnya. Sosiolog dari Universitas Indonesia, Roby Muhamad menuturkan kepada Koran jakarta hubungan sosial yang tidak sehat bisa juga menularkan penyakit, bahkan yang tidak menular sekalipun.

“Anda dapat bayangkan, menurut riset, kondisi obesitas nyatanya dapat menular juga seperti penyakit flu. Namun tak melalui virus ataupun parasit seperti penyakit pada umumnya, lebih pada penyebaran melalui kondisi lingkungan sosial sesorang yang kurang baik. Jadi artinya percuma individu sehat tapi lingkungannya tidak,” jelasnya, di Jakarta, belum lama ini.

Hal yang perlu digarisbawahi ialah besarnya pengaruh ruang sosial yang berdampak langsung ke individu, sekalipun mengaku sudah menjalani gaya hidup sehat sekalipun.

“Misal dari segi kontrol konsumsi saja, masyarakat kini secara umum terlalu kebanyakan makan, hampir di setiap kesempatan. Di sela waktu kerja atau istirahat kerja, berkumpul bersama teman, melihat keramaian tempat makan baru pun kalian cenderung mengikutinya. Jadi kalau kita bisa atur pola konsumsi dan mengetahui pantangan sebenarnya hidup bisa jauh lebih sehat,” tuturnya.

Roby melanjutkan teori yang sama juga berlaku pada kondisi lainnya konduite merokok misalnya. Artinya, seiring waktu orang yang bergaul atau memiliki relasi, orang tersebut akan semakin cenderung mengalami hal serupa ‘kebablasan’ pada masa yang akan datang.

Dan dalam model riset obesitas itu, bisa disimpulkan perilaku tak sehat bisa menular, sebaliknya perilaku sehat juga bisa menular juga melalui teman, keluarga, kelompok komunitas.

Namun Roby menekankan semua tergantung niatan, dan cara untuk tetap menjaga pola hayati sehat. Gabung pada Kelompok Penyebab pasti dari teori penyakit bisa menular melalui jalur sosial memang belum diteliti lebih lanjut. Namun, kuat dugaan adanya sifat naluriah manusia buat mengikuti hal yang dilakukan orang di sekitarnya.

Lantas bagaimana agar kalian tetap konsisten menjaga pola hidup sehat? Roby membeberkan kunci buat meredam arus pola hidup masyarakat, dengan cara gabung ke komunitas yang Anda minati, dan berteman dengan orang-orang positif soal pola hayati sehat.

Diakui memang ada kesulitan pada termin memulainya, untuk meyakini diri soal terapan gaya hayati sehat atau bahkan menemukan orang yang betul-betul menjalankan pola hidup sehat. “Jadi itu sudah ada eksperimen sebetulnya.

Kita mendapatkan keterangan soal kesehatan melalui radio atau televisi misalnya sampai mengubah sikap itu sulit. Tapi jika seseorang mendengar informasi atau bahkan ajakan dari banyak orang yg berbeda, kita baru bisa menyadarinya.

Contoh kecil, saya pernah tinggal di Manhattan, AS. Setiap pagi banyak orang jogging, sampai pada akhirnya saya penasaran dan menetapkan untuk mencoba ikut ‘sehat’ karena terbawa kebiasaan orang di sana,” ujarnya.

Kunci sukses agar Anda tetap konsisten bagi menjaga pola hidup sehat itu bisa dengan gabung ke komunitas yg berbeda-beda di berbagai lingkup sosial yang kami naungi.

Hal itu guna menjaga kualitas pola hidup yg sudah Anda tekuni. Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun juga demikian. Anda harus mengikuti orang-orang yg memiliki mindset serupa.

“Sekarang itu sudah banyak orang yg secara gamblang menerapkan hidup sehat di ruang sosial media, dan rasanya tidak sulit ditemui. Dimanfaatkan saja, untuk menggali inspirasi dan efek positifnya,” kata Roby.

Cenderung Ikut-ikutan

Ini menjadi warta baik, terlebih bagi orang Indonesia yang cenderung ikut-ikutan atau latahan. “Sebetulnya kebiasaan latahan itu bagus asalkan dalam konteks yang benar.

Jadi rasanya mengajak orang, dengan menguatkan support system dalam komunitas perlu ditingkatkan. Baiknya ajakan untuk bergerak sehat harus selalu digalakkan dengan mendesain strategi komunikasi yang menyasar komunitas di berbagai level, sehingga gerakan bisa terasa tersampaikan di setiap individu karena sifatnya massal dan menyentuh, jadi bukan dengan cara pasang billboard karena sifatnya personal sekali,” papar Roby.

Intervensi untuk mengubah individu sangat susah, entah itu mencegah dengan menaikan harga, pajak dan yang lain sebagainya karena masih ada rasa ‘butuh’. tetapi menekan langsung ke komunitas sosial dan memanfaatkan power komunitas bagi berhenti merokok misalnya, tentu akan sangat meringankan karena support system mulai bekerja melindungi kelompok dengan berbagai informasi utama yang menyadarkan.

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk memerhatikan gaya hidup dan menjaga kesehatan masih terbilang masih rendah. Untuk beraktivitas fisik saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya tiga dari sepuluh orang di Indonesia yg aktif meluangkan waktu berolahraga per minggunya. Itu artinya, hanya ada sekitar 30-an persen yang aktif berolah raga (data 2018).

Pola aktivitas negatif yang lain seperti merokok penyumbang penyakit degeneratif seperti yg tegas tertulis di semua bungkus rokok dengan merek apapun terbukti juga sangat tinggi.

BPS mencatat konsumsi rokok pada 2018 tercatat persentase perokok aktif usia lima tahun ke atas mencapai 23,48 persen dengan rata-rata konsumsi hingga 78-79 batang rokok per minggu.

Lalu konsumsi serat buah dan sayur orang Indonesia termasuk rendah. WHO menyebutkan rata-rata konsumsi sayur dan buah orang Indonesia berkisar 34,55 kg per tahun.

Padahal, menurut FAO tubuh yang sehat merupakan tubuh yang mengonsumsi sayur dan buah setidaknya 73 kg per tahun. Data ini didukung oleh Kemenkes dalam data Riset Kesehatan Dasar 2007, yang menyebutkan 93,6 persen masyarakat Indonesia masuk kategori kurang makan sayur dan buah. Sangat ironis, karena kesehatan individu masyarakat di seluruh usia, merupakan modal awal untuk meningkatkan produktivitas yang berkaitan langsung dengan daya saing bangsa. ima/R-1

Artikel ini telah ditampilkan oleh www.koran-jakarta.com dengan judul Peran Komunitas untuk Kesadaran Gaya Hidup Sehat | Koran Jakarta.
Silahkan disimpan jika bermanfaat.