055780900_1585211813-Ilustrasi_cuci_tangan.jpg

Custom Text

Gaya hidup sehat juga tak sekadar mencuci tangan, berjemur, tapi juga memberikan kebaikan bagi sesama. Entah dengan cara menggalang bantuan untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), masker, sembako, dan lain-lain.

Dalam pandangan psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, fenomena tersebut patut disyukuri bahwa ternyata kalian masih punya empati untuk membantu orang yang lain, meski semua sedang sulit.

“Saling membantu adalah sesuatu upaya membuat agar kita semua bisa melewati masa buruk seperti ini,” kata Vera dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com, Sabtu, 11 April 2020.

Harapannya tentu semua kebaikan mulai bertahan, meski tujuannya berbeda bukan lagi mengatasi pandemi. Kebaikan merupakan naluri alamiah dari setiap orang yg mampu berempati terhadap orangp-orang di sekitarnya dan juga dilanjutkan dengan sikap altruistik (sikap suka menolong orang lain).

Lebih lanjut Vera mengatakan, memberi bantuan kepada orang yang lain, selain membantu orang tersebut, juga berdampak positif bagi si pemberi bantuan.

“Beberapa penelitian mengungkapkan hal-hal berikut, seseorang lebih bahagia ketika memberikan uang atau membelanjakan uangnya bagi orang lain daripada untuk kepentingannya sendiri (Dunn, Aknin & Norton, 2008).  Selain itu, perilaku menolong orang lain mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan perasaan bahagia. Otak memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan hormon endorphin yg menimbulkan emosi positif (Moll, 2006),” tulis Vera.

Vera juga menyampaikan, kebaikan perlu  ditanamkan dalam keluarga, terutama pada anak-anak. Caranya? Perlakukan anak secara positif maka anak pun mulai memperlakukan sekitarnya secara positif.

“Contohkan kebaikan ajak anak bagi mengenali lingkungan sekitarnya, seperti lingkungan sekitar rumah. Orang-orang yang butuh bantuan bisa jadi ada di sekitar rumah,” kata Vera.

Selain itu, lanjut Vera, libatkan anak dalam perilaku menolong, misalnya libatkan anak bagi menyiapkan barang-barang yang akan didonasikan. Hindari memberikan reward berupa barang atau uang bagi perilaku menolong karena nantinya anak akan mementingkan reward-nya daripada perilaku menolongnya.

“Jadikan, kegiatan menolong sebagai rutiinitas, misalnya setiap setahun sekali memilih pakaian layak pakai bagi didonasikan,” tandas Vera.

§

Artikel ini telah ditampilkan oleh www.liputan6.com dengan judul Cerita Akhir Pekan: Gaya Hidup Sehat Kembali Jadi Kebiasaan, Mampu Bertahan Usai Pandemi?.
Silahkan share jika bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here