Sabtu, 12 Juni 2010 - 17:19:48 WIB
Kadang-kadang
saya bingung sendiri, benarkah masih ada masakan juara di Singapura yang belum
sempat saya cicipi? Padahal, sudah ratusan kali saya berkunjung ke kota ini
sejak 40 tahun yang lalu, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk
mencicipi semua masakan yang direkomendasikan orang.
Karena
sekarang favorit saya untuk gulai kepala ikan adalah Soon Heng, maka sajian Xin
Yuan Ji yang harus saya acungi jempol justru kepala ikan masak nonya ini. Mulus
dan mak nyuss!
Beberapa
bulan yang lalu, saya sempat menceritakan penemuan tentang gulai kepala ikan
yang dirintis oleh Ah Kong 60 tahun yang silam. Nama restorannya: Soon Heng.
Dalam tulisan itu saya jelaskan bahwa gulai ikan memang khas India. Tetapi,
hanya orang Tionghoa yang mengolah kepala ikan untuk dimakan. Tidak heran bila
Ah Kong-lah yang tercatat dalam sejarah sebagai perintis gulai kepala ikan,
sekalipun sekarang masakan ini justru dianggap sebagai signature dish di
beberapa restoran masakan India di Singapura, seperti Muthu’s Curry dan Banana
Leaf Apollo.
Xin Yuan Ji
Selain
Soon Heng, ada lagi rumah makan Tionghoa di Singapura yang dikenal dengan
masakan kepala ikannya. Salah satunya adalah Xin Yuan Ji, di Jalan Tan Quee
Lan, kurang lebih di belakang Bugis Junction. Rumah makan yang selalu ramai ini
menyajikan gulai kepala ikan dan kepala ikan masak nonya.
Semula,
Xin Yuan Ji membuka gerainya yang pertama di sebuah food court di People’s
Park. Kemudian pindah lagi ke Bukit Merah. Setelah makin populer, Xin Yuan Ji
memindahkan gerainya ke tempat yang sekarang. Bukan lagi bagian dari sebuah food
court atau kopitiam, melainkan sebuah rumah makan yang stand alone, di daerah
yang bergengsi.
Bihunnya
tebal – mirip bihun medan – dimasak kenyal. Kaldunya tipis dan gurih, tanpa
rasa licin di lidah dan mulut. Kepala ikan gorengnya gurih, tanpa rasa asin
yang berlebihan. Sekalipun potongan kepala ikannya digoreng, tidak pula tampak
genangan minyak di kuah bening itu. Bila mengingini rasa kuah yang intens,
tinggal menambahkan kecap asin dan cabe iris yang tersedia. Pelayan membuatkan
tempat tulang dari sobekan kertas majalah yang dilipat membentuk wadah persegi.
Pendekatan elok agar tulang kepala ikan tidak berceceran jorok di meja. Maklum,
orang Singapura dan Hong Kong memang punya kebiasaan untuk membuang tulang
berserakan di meja.
Sajian
bihun kepala ikan Xin Yuan Ji ini sangat mirip dengan hidangan yang populer di
Penang. Bedanya, di Penang masakan ini termasuk sajian di kopitiam sederhana,
bukan kelas rumah makan. Harganya lebih murah, kepala ikannya pun lebih banyak
tulang daripada dagingnya. Citarasa di Xin Yuan Ji barangkali dua lapis di atas
yang pernah saya cicipi di Penang. Bedanya lagi, Xin Yuan Ji punya dua versi
bihun kepala ikan, yaitu: pakai santan atau tanpa santan.
Bila
Anda kurang suka makan kepala ikan yang banyak tulangnya, di situ juga tersedia
bihun dengan filet ikan goreng tanpa tulang maupun duri. Lucunya, bihun ikan
goreng harganya justru lebih murah daripada yang terbuat dari kepala ikan.
Rupanya, “perebutan” untuk mendapat kepala ikan yang kian populer di Singapura
membuat harganya menjadi premium. Kepala ikan yang banyak dipakai adalah kakap
dan kerapu. Yang bagus untuk dimasak adalah yang berasal dari ikan besar dengan
berat minimum tiga kilogram.
Selain
bihun kepala ikan yang dibandrol Sin$6,50 per porsi, Xin Yuan Ji juga populer
dengan sajian gulai kepala ikan kakap dan kepala ikan kakap masak nonya
(masakan peranakan). Yang terakhir ini tanpa santan, tidak terlalu pedas,
dengan rasa asam tomat yang lebih menonjol, dan sayurnya adalah kacang panjang
untuk menggantikan bindih (okra). Sangat mirip dengan masakan asam pedas dari
Tanjungpinang. Terus terang, karena sekarang favorit saya untuk gulai kepala
ikan adalah Soon Heng, maka sajian Xin Yuan Ji yang harus saya acungi jempol
justru kepala ikan masak nonya ini. Mulus dan mak nyuss!
Sumber: travel.kompas.com
Rajaresep.com












