Senin, 15 Maret 2010 - 15:11:54 WIB
Apa yang
kerap terjadi dalam hal gizi masyarakat kita, bermula sebab ketidak tahuan gizi
masyarakat. Takhayul, mitos dan kebiasaan buruk ihwal makanan menjerumuskan
kesehatan keluarga. Orang kecukupan memikul akibat buruk ketidakpahaman gizi
serupa dengan yang dipikul orang papa. Orang bisa meninggal karena kekurangan
makan, bisa juga lantaran kelebihan makan.Harmoni dalam makan dan meja makan
yang bijak, itulah kunci memasuki hidup sehat.
Soal gizi
bangsa kita masih kedodoran. Dunia sepakat gizi menentukan nasib bangsa. Di
Indonesia, orang berkecukupan sakit sebab gizi berlebih. Empat perlima rakyat
malah terancam rawan gizi. Mayoritas lantaran sama-sama tak paham gizi. Selama
ini kasus gizi kurang diberi makanan tambahan. Alokasi anggaran gizi buat
proyek pemberian makanan tambahan anak sekolah (PMTAS) ternyata belum menambah
pintar rakyat ikwal gizi.
Makan bukan
asal enak, tapi terjangkau dan bergizi. Menyuluh rakyat agar lebih pintar
menghindar dari kejadian gizi salah, perlu diberi bobot lebih. Meningkatnya
angka kanker dunia sekarang terkait pula dengan kelirunya memilih menu harian.
Hanya karena tak tahu dua tahun pertama balita lebih butuh telur atau ikan,
lahir “generasi kerupuk”. Generasi yang harus bersaing global tapi IQ sekian
digit di bawah sebayanya di dunia hanya karena tak lengkap gizi meja makan ibu
sejak bayi.
Membangun
masyarakat pintar gizi lebih murah dan tepat ketimbang memboroskan anggaran
buat satu-dua kali memberi susu dan bubur kacang hijau. Diniscayai, solusi masalah
gizi nasional bukan lagi memberi iklan, melainkan mengajarkan masyarakat. Sumber: Gayahidupsehat












